Resistansi (1)

Sumber gambar: https://pin.it/w475ybsythdzt4

Cerita pendek untuk tugas Fantasia.

Resistansi memiliki arti ketahanan. Ketemu kata ini ketika memainkan makna dalam bahasa asing tentang perlawanan.

Tahun-tahun dilalui dunia dalam kedamaian. Namun, tenyata banyak yang menjadi korban di baliknya.

“Yakin tanganmu selalu bersih dari darah? Akan selalu ada pengorbanan untuk masa depan.”

***

Profesor terus menceramahiku tentang keputusan membawa anak-anak pergi dari laboratorium pemerintah. Tidak banyak. Sekitar sepuluh-lima belas, aku tak sempat menghitungnya ketika acak melewati pihak keamanan dan berakhir di lorong pertemuan.

“Tidak boleh ada penindasan! Kamu dengar?” Aku berusaha meyakinkan wanita di depanku—jas putihnya tampak berdebu—sampai tak sadar berteriak.

Anak-anak yang kubiarkan bermain pada sisi terang lorong sempat terdiam, mengawasi kami beberapa detik hingga si profesor melambaikan tangan dan tersenyum. Wanita selalu berhasil mengalihkan ketegangan, sejauh ini.

“Kamu bisa apa? Semua sudah jadi sistem! Yang lemah akan selalu ditindas. Karena apa? Mereka tidak punya kekuasaan, tidak punya harta, tidak punya kecerdasan! Harusnya kamu sadar!”

Kutangkap kesedihan dari bening di sudut matanya. Setiap kata yang dilontarkan bukan hanya sejarah yang berulangkali menjadi momok menakutkan, tetapi masa lalu yang pernah dia alami. Pembicaraan beralih, mengawasi para subjek percobaan. Beberapa dari mereka mampu berinteraksi, saling berbalas kata, bahkan membuat permainan tersendiri.

Setidaknya aku tahu, ketika mereka duduk membuat lingkaran—saling menumpu tangan bersama teman-teman, kemudian berganti menepuk tangan di sebelahnya, tawa mengalir secara alami—mengingatkanku pada masa kecil bersama teman-teman yang telah tiada karena dianggap berbeda dari sistem.

Kusanggah kalimat emosi Lysi sebelumnya dengan berkata, “Mereka hanya anak-anak, Lysi. Mereka punya masa depan.” Seperti dia dulunya.

Perbedaan yang sangat kentara, anak-anak itu belum mengerti masa depan yang direncanakan pemerintah. Mereka hanya menerima, sedang Lysi dan aku harus melalui banyak perjuangan untuk sampai pada tahap diakui.

“Orang-orang terasing. Aneh. Berbeda. Hanya akan termarjinalkan oleh kalangan. Kebanyakan dari mereka dianggap merusak sistem.” Ada penyesalan yang kutangkap dalam ucapan sang profesor.

“Aneh? Apa menjadi manusiawi adalah hal aneh? Apa memiliki pemikiran untuk menentukan masa depan sendiri bisa disebut aneh?”

“Kamu mau membuat mereka sama dengan yang lain? Hanya menjadi penerima kekuatan tanpa tahu jika kekuatan itu menjadi pisau bermata dua? Kamu lihat pada masa internet merajalela, Lysi? Anak-anak menjadi budak layar-layar datar tanpa tahu negara kita sedang perang. Penindasan yang diamini dengan gaya hidup hedon demi pengakuan. Kamu ingat itu, Lysi? Mereka butuh kebebasan berekspresi menjadi diri sendiri. Bukan jadi para pekerja yang berkewajiban mengenyangkan para penguasa.”

Profesor, tidak, aku memanggilnya Lysi. Apa dia menyesal setelah memberi banyak harapan pada sinapsis pemikiran generasi yang tidak memiliki empati?

Lysi mendekati anak yang terjatuh setelah berlarian karena menghindari tepukan. Permainan yang mengharuskan salah satu menjadi pemburu yang harus menepuk buruan untuk berganti posisi. Permainan remeh yang dianggap membuang waktu. Padahal, mereka belajar ketangkasan dari permainan-permainan serupa. Belajar taktik. Belajar kerja sama.

Dia berjongkok, meniup lengan yang tersapu tanah dan mengucapkan tanya seperti biasa, “Ini sakit? Setelah ditiup masih sakit?” Tanpa sadar, Lysi pun menumbuhkan kepedulian dan memberi nama pada tiap emosi yang terbentuk.

Ya, tanah. Permukaan yang langka ditemukan dalam lingkungan steril. Dunia telah dibatasi semenjak badai matahari sempat menyapu atmosfer, merusak segala kemajuan dan tatanan. Negara yang mampu bangkit terhubung melalui teknologi terbarukan. Sisanya?

Hilang? Punah? Entah apa sebutannya ketika selubung-selubung membatasi semua interaksi pada dunia luar.

“Kebebasan memang menggiurkan. Kamu tahu? Kebebasan membawa tanggung jawab besar. Semakin luas kebebasan yang kamu inginkan, semakin berat beban yang akan kamu pikul. Apa kamu siap menanggungnya?”

Jemarinya mungkin telah hapus air yang sempat mengaliri pipi, berganti senyum pada anak-anak yang menghampiri dan menanyakan tujuan kami. Namun, bibirnya masih bergerak bicara.

“Perang. Penyakit. Perjuangan. Belasan tahun yang kita lalui karena hal itu telah berganti dengan anak-anak patuh.”

“Patuh? Patuh seperti apa, Lysi? Di luar subjek percobaan, mereka hanya diam, mengikuti perintah jika layar menampilkan, tapi tidak dengan ucapan sesama manusia. Ayolah, Lysi. Apa bedanya generasi sekarang dengan robot? Mereka bahkan menggunakan mesin hanya untuk mengambil pakaian.”

“Lucas! Bisa kita hentikan pembicaraan ini? Kamu hanya kesepian.”

Teriakan Lysi kali ini membuat anak-anak berhenti bermain. Mereka mengelilingi kami, terutama karena gadis yang kuajak bicara berdiri menantang, menaikkan dagunya, seolah cukup untuk menatap sengit padaku.

“Kamu tidak?” Sarkasme yang kulemparkan sepertinya menarik untuk mengungkap luka lama yang dipendamnya. Ah, iya. Lysi yang tidak pernah punya teman, menghibur diri dengan pembicaraan di dunia maya.

“Ini bukan tentang aku, Lucas!”

“Kamu yang lebih dulu memulai.”

Aku mengangkat kedua tangan ke udara tanda menyerah sebelum berbalik. Berdebat dalam keadaan emosi bukan jalan keluar yang akan menemukan titik temu. Apalagi dengan para generasi mutan yang selamat dari percobaan. Mereka tidak hanya mengenali emosi, tapi juga menyadari, perbedaan membuat mereka terkurung dalam ruang percobaan dan menghadapi banyak rasa sakit.

“Jika kamu menolong mereka, kamu hanya akan memberi harapan jika mereka mampu mengubah sistem. Dari hal yang kecil, dari hal yang paling mudah, dari sekarang. Tidak ada yang tahu jika setiap yang kita lakukan mampu mengubah. Ikuti sistem, atau kamu akan ikut tersingkirkan.”

“Lysi … kamu masih ingin berdebat? Kita tidak punya banyak waktu.”

Kakiku hampir melangkah. Namun, kembali berselisih dengan Lysi bukanlah hal buruk. Sifat pesimis yang membuatnya ragu, justru mengantarkan kami sampai pada pelarian. Logikanya harus diarahkan pada perlawanan.

Bahunya sempat bergerak naik, menghela napas panjang sebelum bicara perlahan. “Apa yang akan kamu lakukan?”

Aku suka melihat mimik pasrahnya. Wajah di balik kaca mata tebal itu selalu menunjukkan kebaikan pada setiap pilihan. “Mengubah sistem. Aku berbeda dan aku membenci sistem.”

“Kamu hanya akan kalah.”

Lysi mengejar langkah panjangku ketika ucapannya tak lagi digubris. Anak-anak jelas akan mengekor padanya, gadis yang dianggap paling mengerti terhadap segala keluhan di usia-usia kritis mereka. Usia ketika manusia membutuhkan kepercayaan namun tergantikan dengan mesin-mesin serba tahu yang justru memutus ikatan dan empati, keluarga sekali pun.

Keluarga seperti apa yang egois dengan segala keperluan umat, tetapi abai dengan kami—masa depan sesungguhnya dari rumah-rumah mereka. Aku tidak akan membiarkan anak-anak merasakan kejamnya dunia tanpa tawa. Aku tidak akan membiarkan masa kecil mereka direbut kesenangan fana dengan tujuan birokrasi berpihak.

Ujung lorong telah terlihat. Di luar bukanlah gedung-gedung pencakar langit seperti tempat kami melakukan percobaan. Semak, hutan, jalan setapak dari tanah yang masih basah setelah hujan. Aroma yang terendus begitu aneh bagi kami. Pakaian serba putih yang anak-anak kenakan pun tidak lagi bersih setelah ragam permainan di sepanjang perjalanan, terutama ketika rasa penasaran terlihat jelas dari tingkah mereka. Tidak peduli basahnya lumpur saat melompat, atau mencoba meraih hal-hal tinggi.

“Kalah? Tidak, Lysi. Aku tidak akan kalah. Aku tidak sendirian.”

Ketika aku berbalik, Lysi masih melangkah bahkan menabrak tubuhku. Pijakan yang kuat tidak membuat kami oleng. Hanya … terdiam sesaat, saling mencari ketertarikan dalam tatapan.

Jenis emosi yang sulit didefinisikan, karena tidak ada dalam teks yang kami pelajari. Respon yang harusnya digunakan manusia untuk berkembang biak. Tidak. Itu teknik yang sangat primitif di masa kami.

Anak-anak bahkan diprogram; memilih sel telur dan sperma unggul untuk disatukan, lalu diprogram semenjak zigotnya berkembang. Hasil yang cacat akan dikirim ke laboratorium kami untuk diteliti. Lebih banyak yang dimusnahkan, kecuali beberapa adaptasi seperti aku dan Lysi.

“Kami juga membenci sistem.” Suara yang terdengar mampu memisahkan kami, saling mundur, memberi jarak. Beberapa remaja menghampiri dengan pakaian lusuh. Jelas berbanding terbalik dengan para penghuni selubung.

“Lysi. Ini—”

“Kalian masih hidup?”

Ucapanku terputus karena Lysi histeris saat mendekati satu per satu dari mereka, memastikan tiap wajah. “Kalian tidak dimusnahkan?”

Remaja setinggi Lysi mendekat ke hadapannya, menggenggam getaran jemari sang profesor yang basah. “Kami tidak akan menyerah hanya karena para peneliti yang berlindung di balik sistem, Prof.”

“Kalian!” Lysi kembali bersembunyi di balik ketegaran, meski matanya kembali berkaca.

Mereka adalah anak-anak yang mampu kusembunyikan setelah pahami, jika tidak ada sistem yang murni menyelamatkan. Tahun-tahun dilalui dunia dalam kedamaian. Namun, tenyata banyak yang menjadi korban di baliknya.

Yakin tanganmu selalu bersih dari darah? Akan selalu ada pengorbanan untuk masa depan.” Ayah yang selalu membanggakan kejeniusanku di mata publik, tak pernah sekali pun tunjukkan kasih sayangnya selain perintah untuk selalu mendapat posisi terbaik.

Pengorbanan satu orang untuk seribu lainnya. Konyol. Aku justru mengingat setiap rencana kekejaman dari para elit, dan sadari, hidup yang kumiliki ditebus oleh banyak nyawa.

“Anak-anak gagal, dibunuh dengan cara yang keji, Lysi. Organ mereka disediakan untuk para dewasa yang memimpin, yang dianggap kompeten. Harusnya mereka yang diganti. Bukan anak-anak ini.” Geram dalam kemarahan yang kutahan membuat Lysi berhenti terharu dengan reuni.

Kurasa, dia menguatkan dengan memegang lenganku, menarikku mengikuti para remaja yang berjalan di depan sebagian, sebagian lagi menjaga para anak-anak. Kisah-kisah yang tak kami dapati pada ajaran-ajaran dalam sistem dituturkan sepanjang perjalanan. Kisah para panglima dalam pedalaman Borneo dengan segala kekuatan mistis yang tak bisa ditangkap logika, membangun candi batu dalam semalam, kutukan yang menegaskan keterikatan hubungan antar manusia.

Anak-anak yang tinggal dalam selubung raksasa itu tak pernah mendapatkannya dalam literasi-literasi digital. Sejarah berjalan sesuai kemauan pemerintahan, bukan kenyataan sebenarnya.

Akar-akar menebal hingga bertemu rumah panggung yang menghubungkan batang-batang besar pepohonan. Sepi. Tidak seperti terakhir kali aku singgah. Biasa teriakan-teriakan menggema. Namun, ini senyap.

“Apa yang terjadi, Innos?” tanyaku pada remaja yang masih kuingat namanya. Mereka terlalu banyak jika dikumpulkan.

Dia tidak menjawab, bergerak cepat dan senyap ke depan. Sedangkan kami bertahan di belakang salah satu pohon.

“Ada yang tidak kuketahui?” Pertanyaanku kali ini tertuju pada gadis di samping Lysi. Dia sempat menunduk, mengambil benda di balik celana kargonya.

“Nightwalker. Mereka terkadang mengintai. Beberapa tewas.”

Keinginan bebas yang bergelayut, seolah goyah. Kenyataan jika kami tidak memiliki kuasa cukup mengkhawatirkan. Anak-anak yang kami selamatkan, Lysi, dan aku belum pernah terjun pada pertarungan secara langsung. Apalagi dengan senjata api yang gadis itu persiapkan.

“Kalian membunuh mereka?” Lysi tidak kalah terkejut denganku. Gadis itu bersiap di depan, berjaga jika pengintai dari kalangan yang disebut Nightwalker menghampiri.

“Tidak.”

“Benda yang kamu pegang?”

“Kami mendapatkannya dari para Nightwalker yang mati mendadak. Mereka sepertinya diracun.”

Manusia? Pemerintah mengorbankan manusia lagi? Bukankah mereka punya robot kendali jarak jauh?

“Sudah berapa lama seperti ini? Kenapa mengirim manusia?” Pertanyaanku mungkin terdengar gagap di bibir. Namun, pemikiran yang bergelayut dalam otak semakin bercabang.

Dunia semakin mengerikan.

“Mesin hanya bekerja di dalam selubung. Kami lebih cerdas memanfaatkan sampah yang mereka tinggalkan.” Gadis berambut panjang itu bersiap menembak seraya menyelidik sekeliling.

Hitungan detik dari pembicaraan, ledakan pada rumah panggung mampu membuat kami terbelalak. Susunan kayu porak poranda ke segala arah.

Keterlaluan. “Mereka tidak menyisakan saksi.” Kejadian-kejadian di depan mata semakin menegaskan keputusanku. “Kita benar-benar harus menghapus sistem dari negeri ini.”

***

Life’s Game of Human (1)

Sumber gambar: https://pin.it/vwutnw53hs4huw

Tendanganku yang terakhir mampu membuatnya tersungkur. Pedang bersinar di tangan sudah lenyap begitu sorakan menggema di sekeliling arena.

Lawanku?

Mati?

Tidak tahu.

Alat yang kami gunakan untuk menembus dunia virtual tidak menunjukkan embusan napas. Hanya tampilan kecil di dekat kepala yang menunjukkan ability—kemampuan. Singkat kata, sederet angka masuk dalam dompet virtual, penghasilanku selama memenangkan pertarungan.

Lawanku tidak terbangun seperti yang lain setelah pertarungan. Dia benar-benar … musnah.

Sosoknya berubah menjadi kabur, kotak-kotak, lalu terbang—lenyap.

Dadaku berdebar kencang. Bukan karena euforia kemenangan dalam pertandingan final, tapi rasa yang menyelusup benar-benar janggal.

Kulepas benda dari kepala setelah memastikan penglihatan berubah gelap ketika keluar dari permainan. Suasana ramai di sekitar pertandingan berubah kesunyian, berganti benda-benda monokrom.

Aku tak sendiri. Para relawan yang mencari penghasilan melalui permainan masih berada dalam imajinasi dunia virtual pada kapsul-kapsul terbuka.

Kupaksakan langkah mengitari ruangan seluas lapangan bola itu dengan penasaran meski tubuh terasa lelah. Kehebohan di salah satu sub unit membuatku spontan berlari mendekat.

Mulutku terbuka, menganga. Jejak kaki mundur seketika.

Sosok itu, yang kukalahkan, tersungkur bersama alat yang menutupi sebagian kepalanya. Alat yang juga kukenakan saat bertanding. Semua rongga terbuka mengeluarkan darah. Hidung, telinga, mungkin mata dari yang terlihat di pipinya.

“Apa yang sedang terjadi? Apa yang terjadi?” Alih-alih mendapatkan jawaban ketika berteriak, tubuhku justru diseret tanpa mampu melawan. Mereka menekan tangan dan kakiku yang mendadak berkumpul pada satu titik di depan.

Gelang-gelang besi yang mereka berikan di awal pertandingan ternyata mampu menjadi pengikat otomatis.

Antara takjub dan getir menyesakkan. Aku takut. Kematian dan kebenaran jadi lebih logis saat melihat ruangan-ruangan lain yang terlewati saat para manusia dengan pakaian serba putih itu mengangkut kami. Beberapa pemain yang menolak pertandingan atau pemain yang sudah tak lagi bernyawa.

Bukankah mereka yang menawarkan kebebasan dan kekayaan pada kami saat pendaftaran relawan? Kuingat setiap wajah tanpa raut itu ketika tersenyum sebelumnya.

Kini, mereka bahkan membawa kami melewati lorong-lorong gelap. Semakin mendekati cahaya kebiruan di ujung, kentara aroma amis berkarat—busuk.

Kaki-tangan bergetar. Dalam artian berbeda. Ada firasat aneh yang membisik jika ini tidak akan berakhir baik. Gelap yang membelai berganti cahaya dari langit.

Benda apa itu? Jelas berbeda dari cahaya memancar dari sudut-sudut gedung.

Tanya dalam benakku belum terjawab ketika mayat-mayat dilempar pada tumpukkan tulang belulang.

Aku?

Bagaimana denganku?

Desing tembakan pada pemain yang lebih dulu keluar langsung mengejutkan, menjalarkan getar dingin di sepanjang punggung.

Kugelengkan kepala saat salah satu dari mereka menghampiri, menarik paksa hingga aku terseret di sepanjang tanah basah. Berbeda dengan permukaan lantai ruang yang selama ini kutempati. Semua benar-benar asing.

Giliranku menghadapi mulut senapan akhirnya tiba. Benda yang kupikir hanya ada dalam permainan, berwujud nyata bahkan mampu kusentuh meski akibatnya mendapat pukulan telak di sudut pelipis.

Kerat pemicu yang ditarik terdengar bagai musik pengantar kematian. Sekali tembakan terlontar, kupikir malaikat maut telah menjemput.

“Bangun! Kamu masih mau bertahan di sini dan mati?” Ucapan seorang gadis membuatku membuka mata yang sempat terpejam karena takut dengan sakitnya tembakan. Dia memukul gelang pengikat di tangan dan kakiku menggunakan pangkal senapan hingga terbuka.

Pukulan yang menerpa sebelumnya masih menyisakan nyeri, penglihatanku berguncang sesekali, ketika harus mengikuti langkah sosok berpakaian serba hitam pembawa senapan.

Rambut panjang, terusan dan celana ketat. Aku seolah bertemu salah satu karakter dalam permainan.

Cahaya terpancar dari penerangan di atas laras tembakan. Berganti garis merah pembidik ketika dimatikan.

Sepanjang jalan yang dilewati penuh dengan mayat bergelimpangan, berganti jalan setapak penuh benda rongsokan. Bukan lagi amis, tapi aroma basah asam.

“Siapa di sana?” teriak sosok lain dalam kegelapan.

Gadis di depanku menyalakan lampunya seperti kelip. Tiga kali. Mungkin penanda. Kode. Atau semacam itu. Kemudian deret cahaya menyala bergantian, menerangi pemukiman dari berbagai benda yang ditumpuk. Lapisan besi, kayu, atau plastik. Sulit membedakan, hanya menebak ketika menyentuh setiap dinding.

Wanita yang jauh lebih tua menghampiri si gadis, memeluknya sambil tersenyum ketika disebut ibu. “Kamu pulang, Nak!” ucapnya dengan intonasi bergetar.

“Pulang?” Aku mengulang kata, tak mengerti.

Anak kecil yang menarik ujung kaus yang kukenakan bertanya, “Ini siapa?” Dia terlihat kurus, berpakaian lusuh, tetapi cerianya kontras dengan kecanggungan yang kuhadapi.

Gadis itu berpindah cepat pada ruang lain, membawa dua benda lingkaran cekung berisi cairan kental dan lengket ke atas meja di dekatku.

“Duduklah. Makan.” Dia menepuk tempat panjang di sisinya untuk kududuki, sepertinya.

Kuikuti tiap geraknya yang terasa asing. Duduk, dan … memegangi benda dari besi yang juga cekung bergagang. Bola mataku bahkan masih betah menyelisik sekeliling. Jauh lebih sempit dari ruang yang kutempati dalam pertarungan lima tahun terakhir.

“Makan?”

“Apa mereka tidak memberimu makan seperti manusia di dalam sana?” Gadis itu tersenyum. Mata cokelatnya melengkung mengikuti.

“Cobalah.” Dia menyodorkan suapan di depan bibirku. Benar. Ini makan. Seperti sejarah sebelum manusia menemukan tablet pengganti nutrisi.

Apa berarti kami bukan manusia?

“Enak?”

Aku mengangguk meski tak mengerti maksud dari kata enak. Lidahku rasakan sensasi aneh menagih. Kuambil benda cekung bergagang untuk menyuap lebih.

“Apa yang kamu lakukan sampai mereka ingin membunuhmu?”

Si wanita tua dan anak kecil sebelumnya mengambil posisi di seberang meja. Antusias dengan pertanyaan yang gadis itu layangkan.

“Siapa namamu?”

Belum lagi pertanyaan kujawab, dia sudah menambah pertanyaan lagi.

“Aran. Namaku Aran dan tidak melakukan apa pun. Hanya ….”

“Apa?”

“Aku melihat kematian.”

Gadis itu tergelak, mendorong makanannya ke arahku. “Kamu harus lebih banyak makan.”

“Sebenarnya … apa yang terjadi—”

“Zea. Aku Zea.”

“Iya. Sebenarnya apa yang terjadi, Zea?”

Dia kembali menertawakanku, menutup mulut dengan punggung tangannya. “Bahasamu. Baku. Apa mereka benar-benar membuat manusia?”

“Apa maksudmu?”

Zea berdeham, menormalkan napas yang terburu sebelum menjelaskan, “Kloning. Perusahaan besar yang membuang kalian, menciptakan manusia untuk mengembangkan senjata. Kalian ditakdirkan jadi prajurit. Bukan manusia.”

Aku tertegun, mencari kejujuran dari setiap kata yang terlontar. “Kalian sendiri?”

Raut Zea berubah serius dengan pangkal alis yang bertemu. “Apa kamu tahu jika manusia di luar perbatasan seperti kami diberantas karena tidak mengikuti sistem?”

Aku menggeleng cepat. Sepanjang kehidupan yang kujalani ditujukan untuk menang dalam pertarungan. Semenjak sadar dan membuka mata, semua tentang mencari teknik mengalahkan.

Kupikir, semua hanya permainan. Namun, kenyataan hari ini cukup menjelaskan. Akan selalu ada korban dalam percobaan.

Tidak satu.

Tempat penuh mayat yang mempertemukan Zea denganku menjadi bukti jika kami dididik bukan sebagai manusia.

***

Mangkuk Ayam Jago Paklik Bakso

Aku melangkah maju mundur, tak berani menghadang. Sebentar lagi dia akan lewat. Suara ketukan sendok pada mangkuk ayam jagonya begitu kentara hingga ujung gang.

Ragu. Mau temui, tidak. Sekilas ada rasa bersalah menyelimuti. Tapi, aku sudah tak tahan lagi untuk berjumpa.

Lama nian langkahnya tiba sampai kediamanku. Peluh dari kening terasa dingin telah mencapai sudut dagu. Sesekali ketukan mangkuk ayam jagonya terhenti. Tanda lelaki penjaja bakso itu sedang bertransaksi.

Kesabaranku sudah di ujung tanduk, memaksa kaki melangkah tanpa menunggu. “Paklik!” Kupanggil ia berulang kali hingga menoleh. Padahal jejakku hampir sampai.

“Bakso satu!”

“Sudah berhenti diet, Neng?”